Ultimatum Trump: Buka Selat Hormuz atau Infrastruktur Iran Dihancurkan
JAK ONE – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meningkatkan ancamannya terhadap Iran dengan memperingatkan akan menyerang infrastruktur vital negara tersebut jika pemerintah di Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu yang ia tetapkan.
Dalam unggahan media sosial bernada keras pada Minggu (waktu setempat), Trump menyatakan bahwa Selasa akan menjadi “hari pembangkit listrik dan hari jembatan” di Iran, mengisyaratkan potensi serangan besar terhadap fasilitas energi dan infrastruktur penting lainnya.
Trump secara langsung mendesak para pemimpin Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia.
Iran Ancam Balasan Lebih Keras
Menanggapi hal itu, pihak militer Iran melalui Khatam al-Anbiya Headquarters memperingatkan akan meningkatkan serangan terhadap fasilitas sipil dan energi jika Amerika Serikat dan sekutunya melancarkan serangan lanjutan.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan mereka telah menyerang sejumlah fasilitas minyak dan infrastruktur di wilayah Israel dan negara-negara Teluk, sebagai balasan atas serangan udara sebelumnya yang disebut menghantam kompleks petrokimia terbesar Iran.
Iran juga mengklaim telah menghancurkan beberapa pesawat militer Amerika dalam operasi penyelamatan di wilayah Isfahan. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan Meluas ke Kawasan Teluk
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan serangan puluhan rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran. Kementerian Pertahanan setempat menyebut total puluhan proyektil telah ditembakkan, termasuk rudal balistik dan drone.
Sementara itu, di Kuwait, serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di fasilitas minyak dan petrokimia, dengan tingkat kerusakan yang disebut “signifikan”.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Selat Hormuz merupakan jalur sempit namun sangat strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan memperburuk stabilitas ekonomi internasional.
Ketegangan Berpotensi Memanas
Situasi ini menandai peningkatan signifikan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Jika ancaman berubah menjadi aksi militer terbuka, konflik berisiko meluas dan melibatkan lebih banyak negara, termasuk Israel serta negara-negara Teluk lainnya.
Hingga kini, perkembangan situasi masih berlangsung cepat, dan sejumlah informasi dari kedua pihak belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.
