Film Lift Hadir sebagai Drama Psikologis yang Relevan dengan Zaman

JAK ONE – Menjelang penayangannya di bioskop pada 26 Februari 2026, kisah dalam film drama psikologis Lift semakin terasa relevan dengan masa kini. Film debut penyutradaraan Randy Chans yang diproduseri oleh Ario Sagantoro dan Adha Riantono ini menyampaikan kritik sosial dengan cara yang kreatif: terntang relasi kuasa, kontrol, dan posisi individu ketika berhadapan dengan sistem yang menekan.

Tanpa mengumbar pesan secara eksplisit, Lift merancang terornya sebagai pengalaman yang terasa dekat dengan keseharian. Sebuah lift, ruang transisi yang biasa kita masuki tanpa berpikir panjang, digunakan sebagai simbol situasi tanpa jalan keluar. Pintu tertutup, kendali berpindah tangan, dan suara dari interkom menjadi satu-satunya otoritas yang harus ditaati. Dalam kondisi tersebut, pilihan bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal bertahan hidup.

Randy Chans menyebut bahwa pendekatan ini diambil karena sangat mencerminkan sistem masyarakat kita.
sistem masyarakat kita. “Lt turuang yang sangat demokratis sekaligus Sangat hierarkis,”ujarnya. “Semua orang bisa masuk, tapi begitu pintu tertutup, ada sistem yang bekerja di luar kendali kita. Kami tertarik pada ketegangan itu; tentang bagaimana manusia bereaksi saat dihadapkan pada kekuasaan yang tak terlihat, tapi sangat menentukan nasib”.

Relevansi tersebut menjadi semakin kuat ketika sebagian besar cerita Lift berlangsung di satu lokasi. Sekitar 60 persen film teriadi di dalam i此,menjadikannya sebagai perangkat dramatik utama. Ruang yang sempit memaksa karakter untuk terus berhadapan dengan tekanan, tanpa kemungkinan untuk pergi, menghindar, atau “kabur”dari situasi yangada.

“Di dunia nyata,sering kali kita merasa punya banyak pilihan, padahal sebenarnya Sebaliknya,” ungkap Randy.”Lit bekerja dengan cara yang sama. Kamu bisa menekan tombol, tapi kamu tidak pernah benar-benar mengendalikan ke mana kamu dibawa.”

Kisah Lift berpusat pada Linda (lsmi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, yang terjebak di dalam kantor enam tahun setelah kecelakaan tragis yang menewaskan banyak orang. Melalui suara misterius di interkom, Linda dipaksa mengikuti serangkaian permainan berbahaya demi menyelamatkan anaknya. Seiring permainan berlangsung, lapisan-lapisan kebenaran tentang tragedi masa lalu mulai terkuak, memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan di level atas berdampak langsung pada mereka yang berada di bawah.

Shareefa Daanish menyebut proses syuting Lift sebagai pengalaman yang intens tapi juga menarik. “Film ini seru karena ketegangannya pelan-pelan, bukan yang langsung meledak,”uarnya. “Kita diajak masuk ke situasi yang kelihatannya sederhana, tapi makin lama makin terasa menekan. Buat aku, itu yang bikin Lift juga terasa relevan untuk hari ini. Karena kadang dalam hidup, kita juga ada di posisi yang kayak gitu.”

Terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Official Selection AME International Film Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026, dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 202 menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatan dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror. Selain Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, Lift turut dibintangi oleh Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Tegar Satrya, Luthfi Saputra, Annete Yules, dan Berliana Lovell. Film Lift akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *