Lady Vien Tampil Memukau dalam Balutan Busana Kawasaran Minahasa di “Warna-Warni Indonesia”

JAK ONE – Ada pengalaman istimewa yang dirasakan Lady Vien ketika dipercaya menjadi model dalam video klip lagu “Warna Warni Indonesia”. Bukan sekadar tampil di depan kamera, Lady Vien juga mendapat kesempatan mengenakan busana adat Kawasaran dari Minahasa, Sulawesi Utara, lengkap dengan aksesori yang sarat makna budaya.

Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi Lady Vien. Ia mengaku antusias dapat menjadi bagian dari karya yang mengangkat keberagaman budaya Indonesia, terlebih menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Aku senang banget kepilih jadi model video klip lagu terbaru ‘Warna Warni Indonesia’. Kali ini aku pakai baju dari Minahasa, Sulawesi Utara,” ujar Lady Vien saat ditemui di Jakarta.

Penampilan Lady Vien semakin mencuri perhatian dengan busana Kawasaran yang dikenakannya. Kawasaran merupakan tradisi leluhur masyarakat Minahasa yang berkaitan dengan sosok Waraney, atau ksatria Minahasa.

Dalam tradisi Minahasa, Kawasaran memiliki makna sebagai simbol perlindungan. Istilah tersebut berasal dari kata “kawak” yang berarti melindungi dan “asaran” yang bermakna sama atau berlaku seperti. Filosofi tersebut menggambarkan sosok yang mengambil semangat para leluhur sebagai pelindung tanah, negeri, dan kehidupan.

Busana yang dikenakan Lady Vien pun memiliki karakter yang unik. Bagian dasarnya menggunakan kayu alam yang diikat dengan kain tenun pampele dan dipadukan dengan kain tenun kaiwu patola. Tata busana dan aksesori dibuat dengan mengacu pada konsep sustainable fashion, tanpa menggunakan material hewan asli.

Bagi Lady Vien, keunikan tersebut membuat pengalaman mengenakan busana Minahasa terasa semakin berkesan.

“Ini sesuatu yang beda karena aku belum pernah video klip memakai pakaian adat seperti ini, lengkap dengan aksesori. Detail-detailnya benar-benar aku suka dan ternyata ada artinya juga,” tuturnya.

Terpesona dengan Detail Busana Minahasa

Lady Vien menikmati setiap proses ketika mengenakan busana tersebut. Ia bahkan tertarik dengan material dan proses pembuatan sejumlah aksesori yang digunakan untuk melengkapi penampilannya.

Penggunaan bahan-bahan alami memberikan karakter tersendiri pada busana sekaligus memperkuat kesan tradisional yang ingin ditampilkan.

“Bagus banget, keren. Bahannya juga dari bahan-bahan alami,” kata Lady Vien.

Pengalaman itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Lady Vien untuk kembali mengeksplorasi kekayaan busana tradisional Indonesia.

Sebelumnya, ia pernah mengenakan pakaian adat dari sejumlah daerah, termasuk Jawa dan Bali. Namun, kesempatan mengenakan busana Minahasa memberikan pengalaman baru yang membuatnya semakin tertarik terhadap keberagaman fashion tradisional Indonesia.

“Aku sudah pernah pakai pakaian Jawa dan Bali. Sekarang dapat kesempatan untuk pakai pakaian Minahasa. Aku suka banget karena bisa mencoba sesuatu yang baru,” ujarnya.

Bukan Sekadar Fashion

Bagi Lady Vien, busana Kawasaran yang dikenakannya bukan sekadar pelengkap penampilan dalam video klip. Ada pesan mengenai identitas, budaya, perjuangan, dan kecintaan terhadap Indonesia yang ingin disampaikan.

Kawasaran digunakan sebagai lambang penghormatan kepada para Waraney, para ksatria bangsa yang memiliki sejarah perjuangan melawan penjajahan.

Semangat tersebut juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk meneruskan perjuangan dalam bentuk yang berbeda, yakni dengan berkontribusi dan memajukan bangsa.

Lady Vien menilai keberagaman merupakan salah satu kekuatan terbesar Indonesia. Perbedaan suku, budaya, dan tradisi justru menjadi warna yang membuat Indonesia semakin kaya.

“Yang penting kita menyatakan cinta kepada Indonesia. Kita hidup berdampingan dengan teman-teman kita meskipun kita berbeda,” ungkapnya.

Pesan tersebut terasa semakin relevan karena “Warna Warni Indonesia” hadir menjelang momentum kemerdekaan. Melalui musik, busana, dan berbagai unsur budaya, karya tersebut mencoba menghadirkan gambaran Indonesia yang beragam tetapi tetap dapat hidup berdampingan.

Lady Vien berharap karya tersebut dapat mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin mengenal sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia.

“Indonesia itu kaya banget, baik dari alam maupun budayanya. Jadi alam dan budaya kita harus terus dilestarikan,” katanya.

Delapan Penyanyi Bersatu dalam “Warna Warni Indonesia”

Lagu “Warna Warni Indonesia” melibatkan delapan penyanyi, yakni Sarwana, Feline Xiao, Lidya Lau, Ari Sanjaya, Bemby Noor, Fryda Lucyana, Dea Mirella, dan Tessa Mariska.

Sutradara sekaligus produser Marcos Tjung mengakui bahwa menyatukan delapan penyanyi dengan kesibukan masing-masing menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan waktu membuat proses rekaman sekaligus pengambilan gambar harus dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

“Aku coba hari itu saja, benar-benar dari rekaman hari itu juga, syuting hari itu juga. Karena ngumpulin mereka itu yang nggak mungkin,” ujar Marcos.

Meski dikerjakan dalam waktu terbatas, Marcos berusaha memaksimalkan konsep visual agar pesan lagu tetap tersampaikan. Kehadiran Lady Vien dalam balutan busana Kawasaran Minahasa menjadi salah satu elemen visual yang memperkuat pesan tentang keberagaman Indonesia.

Bagi Lady Vien, keterlibatannya dalam “Warna Warni Indonesia” bukan sekadar kesempatan untuk tampil di depan kamera. Ada kebanggaan tersendiri ketika dirinya dapat mengenakan busana tradisional sekaligus ikut memperkenalkan kekayaan budaya Minahasa kepada masyarakat luas.

Melalui perpaduan musik, busana adat, dan seni tradisional, “Warna Warni Indonesia” membawa semangat untuk merayakan keberagaman Indonesia dalam suasana penuh warna menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *