AKSI INKLUSI Dorong Kesiapan Kerja Penyandang Disabilitas Melalui Simulasi Profesi dan Edukasi Orang Tua
JAK ONE – Kesetaraan akses terhadap dunia kerja bagi penyandang disabilitas masih menjadi tantangan di Indonesia. Meskipun Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 telah mengatur kewajiban perusahaan swasta untuk mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari total tenaga kerja, implementasinya masih memerlukan dukungan dari berbagai pihak, khususnya dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap isu tersebut, mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business kelas PRDC 27-2TP menyelenggarakan program Community Development bertajuk AKSI INKLUSI: Potensi Inklusi, Raih Profesi pada 19 Juni 2026 di Nassa Valley, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa LSPR, Nassa School yang menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB), Happy Bear Center sebagai lembaga pendamping anak berkebutuhan khusus, serta Student Council Nassa School sebagai panitia pendukung. Melalui kolaborasi tersebut, AKSI INKLUSI menghadirkan pengalaman pembelajaran berbasis praktik bagi 30 siswa dan alumni SLB Al-Gaffar Guchany kategori B (tunarungu) dan C (tunagrahita).
Mengusung semangat pemberdayaan dan kemandirian, AKSI INKLUSI dirancang untuk memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja melalui berbagai aktivitas pengembangan keterampilan dan simulasi profesi. Program ini juga menjadi implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat, yaitu Pendidikan Berkualitas, dengan menyediakan ruang belajar yang inklusif dan aplikatif bagi peserta.
“Banyak orang tua yang masih merasa khawatir terhadap masa depan anak-anak mereka setelah lulus dari SLB. Melalui AKSI INKLUSI, kami ingin menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberikan kesempatan, dukungan, dan ruang untuk belajar,” ujar Ribka Desclara Bintoro, Ketua Pelaksana AKSI INKLUSI.
Senada dengan hal tersebut, Dosen Pembimbing Community Development, Rizka Septiana, M.Si., menegaskan pentingnya membangun kepercayaan dunia industri terhadap kemampuan penyandang disabilitas.
“Program ini menjadi salah satu upaya untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kompetensi yang dapat terus dikembangkan. Dengan pendampingan yang tepat, mereka mampu beradaptasi dan berkontribusi secara profesional di lingkungan kerja,” jelasnya.
Sebelum pelaksanaan acara utama, peserta terlebih dahulu mengikuti kegiatan pre-event berupa Basic Personal Grooming Workshop yang difasilitasi oleh LSPR School of Special Needs Education (SSNE). Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan pemahaman dasar mengenai etika dan penampilan profesional sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Pada acara puncak, peserta mengikuti sesi Job Simulation yang menghadirkan pengalaman praktik dari dua sektor industri. Bersama ARTOTEL, peserta diperkenalkan pada bidang hospitality melalui pengenalan profesi Food & Beverage (F&B) dan praktik membuat sandwich. Sementara itu, bersama IKEA, peserta mempelajari dasar-dasar pekerjaan di sektor retail melalui simulasi pengelompokan produk berdasarkan kategori, warna, bentuk, dan metode pengemasan.
Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan aplikatif, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga kesempatan untuk merasakan langsung pengalaman bekerja dalam lingkungan yang menyerupai kondisi industri sesungguhnya.
Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta menerima sertifikat partisipasi dan dokumentasi profesional yang dapat dimanfaatkan sebagai portofolio pribadi.
Tidak hanya berfokus pada peserta didik, AKSI INKLUSI juga menghadirkan sesi talkshow bertajuk “Kenali dan Dukung Potensi Disabilitas” yang ditujukan bagi para orang tua dan wali murid.
Diskusi ini menghadirkan Egie Fatmawati selaku Koordinator Wilayah POTADS Bekasi, Novrian, S.Sos., M.I.Kom. selaku Ketua KPAD Kota Bekasi, Lidia Wisneli, M.Psi. selaku Psikolog Happy Bear Center, serta Sekar Ajeng, mahasiswi LSPR sekaligus penyandang disabilitas daksa.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, AKSI INKLUSI diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri dalam menciptakan peluang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Lebih dari sekadar program pengembangan masyarakat, kegiatan ini menjadi bentuk komitmen bersama untuk membangun lingkungan kerja yang menghargai keberagaman, kemampuan, dan potensi setiap individu.
