Emas jadi Primadona di Tengah Ketidakpastian Global

JAK ONE – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyoroti ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi membuat investor mengalihkan dana mereka ke komoditas emas.

Perry menyebut, arus modal global ke aset safe haven, termasuk emas terus meningkat seiring tingginya ketidakpastian ekonomi dunia. Meningkatnya minat pada emas turut memberikan dampak pada pergerakan pasar keuangan global, terutama negara berkembang.

“Dengan masih tingginya ketidakpastian, aliran modal global ke komoditas emas semakin meningkat sedangkan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2025 yang disiarkan secara daring, dikutip Kamis (18/9/2025).

Gubernur BI menyoroti perekonomian dunia yang masih dalam tren melambat akibat dampak penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan disertai ketidakpastian yang masih tinggi. Kondisi ini menjadikan emas sebagai primadona karena dinilai stabil di tengah guncangan.

“Berbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai dengan disparitas pertumbuhan antarnegara.,” paparnya.

“Ke depan, volatilitas pasar keuangan global masih terus berlanjut sehingga perlu diantisipasi dengan penguatan berbagai respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi dalam negeri,” tutur Perry.

Diberitakan sebelumnya, harga emas dunia melemah pada Rabu (17/9), setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di awal perdagangan. Harga emas spot ditutup jatuh 0,82% menjadi US$ 3.659,9 per troy ounce, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 3.707,40 per troy ounce.

Secara bulanan, harga emas masih mencatat kenaikan hampir 6%. Adapun kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember, harga ditutup melemah tipis 0,2% ke US$ 3.717,8 per troy ounce.

Adapun harga emas dunia diperkirakan akan lanjut menguat hingga ke kisaran US$ 3.800 per ons pada akhir tahun 2025. Angka tersebut mengikuti ekspetasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed), ekonomi AS yang dibayangi pelemahan, juga langkah bank-bank sentral global yang menambah kepemilikan emas.

“(Harga emas US$ 3.800) kemungkinan tercapai. Kita melihat bahwa Rupiah terus menguat di kisaran Rp 16.200 – Rp 16.300 karena kondisi ekonomi di dalam negeri sedikit stabil, sehingga logam mulia di Rp 2,150 merupakan level terbaiknya dengan kondisi harga emas US$ 3.800,” ungkap pengamat pasar emas, Ibrahim Assuaibi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *