Mirae Asset: Risiko Global Mereda, Investor Tetap Perlu Waspadai Tantangan Domestik
JAK ONE – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global mulai menunjukkan perbaikan seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, investor masih dihadapkan pada tantangan dari kebijakan moneter global dan kondisi ekonomi domestik yang diperkirakan tetap memengaruhi pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Pandangan tersebut disampaikan dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk “Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed?” yang mengulas perkembangan pasar terkini, peluang investasi sektoral, serta strategi diversifikasi portofolio.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan meredanya risiko geopolitik memang memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi menjadi faktor yang masih membayangi pelaku pasar.
Saat ini, Federal Funds Rate (FFR) berada di level 3,75 persen dan diperkirakan berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember sehingga mencapai 4,25 persen pada akhir tahun.
“Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi,” ujar Rully.
Di sisi lain, Mirae Asset merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1 persen.
Selain faktor eksternal, investor juga diminta mencermati sejumlah tantangan domestik, mulai dari stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal pemerintah, hingga meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.
Menurut Rully, pemulihan pasar Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor disarankan tetap berfokus pada fundamental perusahaan dan lebih selektif dalam menyusun strategi investasi.
Sementara itu, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih menilai sektor poultry menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati. Menurutnya, konsumsi daging ayam di Indonesia yang masih sekitar 8,6 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia sebesar 32,9 kilogram dan Vietnam 16,7 kilogram, menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar.
Prospek tersebut didukung oleh peningkatan konsumsi, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali akibat penurunan kuota impor grand parent stock (GPS) dan implementasi program culling.
“Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor,” kata Andreas.
Di tengah volatilitas pasar, Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan menegaskan pentingnya diversifikasi dalam membangun portofolio investasi. Menurutnya, investor perlu menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas karena setiap instrumen memiliki karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Mirae Asset Sekuritas memperluas pilihan produk investasi melalui platform M-FUND dengan menghadirkan Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A. Reksa dana syariah pendapatan tetap tersebut berinvestasi pada sukuk negara dan sukuk korporasi, serta ditujukan bagi investor dengan profil risiko moderat hingga konservatif.
Melalui penambahan produk tersebut, Mirae Asset berharap dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi investor dalam membangun portofolio yang terdiversifikasi sesuai tujuan investasi dan kebutuhan masing-masing.
