Harga Emas Dunia Berbalik Menguat 1%, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Turunnya Harga Minyak
JAK ONE – Harga emas dunia kembali menguat lebih dari 1% pada perdagangan Jumat (29/5/2026) setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir.
Kenaikan harga logam mulia terjadi di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta penurunan harga minyak dunia menyusul kabar mengenai perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Harga emas spot tercatat naik 1,1% menjadi US$ 4.504,07 per ons setelah sebelumnya turun ke level terendah sejak akhir Maret 2026. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup menguat 1,1% ke posisi US$ 4.532,40 per ons.
Penguatan harga emas juga didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,2%. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor luar negeri sehingga meningkatkan permintaan.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik 1,3% menjadi US$ 75,60 per ons. Adapun platinum bergerak stabil di level US$ 1.918,95 per ons, sedangkan paladium turun 1,4% ke posisi US$ 1.371,52 per ons.
Sentimen positif bagi emas juga muncul setelah harga minyak Brent melemah akibat laporan perkembangan kesepakatan antara AS dan Iran. Pelaku pasar menilai peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dapat membantu meredakan tekanan inflasi global.
Dari sisi ekonomi AS, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 3,8% secara tahunan pada April 2026, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, indeks tersebut meningkat 0,4% setelah sebelumnya melonjak 0,7% pada Maret 2026.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan kombinasi data inflasi yang lebih lemah dan peluang stabilitas geopolitik menjadi faktor utama yang menopang harga emas.
“Emas sempat terancam turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari pada pagi ini, level yang dianggap penting oleh banyak pelaku pasar untuk menjaga tren kenaikan,” ujar Wong seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek menilai data inflasi terbaru membuka peluang bagi Federal Reserve untuk menahan suku bunga dan tidak melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Meski demikian, risalah rapat Federal Reserve pada 28–29 April 2026 menunjukkan semakin banyak pejabat bank sentral AS yang mulai terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Harga emas sendiri berada di bawah tekanan sejak pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026 akibat kekhawatiran meningkatnya inflasi global.
Sebagai aset safe haven, emas umumnya cenderung kurang diminati ketika suku bunga tinggi karena investor lebih memilih instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih besar.
Di sisi lain, permintaan fisik emas dari China menunjukkan peningkatan signifikan. Data terbaru memperlihatkan impor emas bersih China melalui Hong Kong melonjak 81,2% pada April 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
